Selasa, 04 Juni 2013

Definisi Public Relations Menurut Para Ahli

Terbitan kali ini akan membahas mengenai pengertian-pengertian atau beberapa definisi mengenai Public Relations (PR) dari beberapa para pakar di dunia maupun Indonesia. Definisi-definisi itu dikutip dari beberapa buku yang berkaitan dengan Public Relations.

Pertama-tama yaitu ulasan definisi Public Relations (PR) dari beberapa pakar di dunia, antara lain :

Menurut Dr. Rex Harlow dalam Ruslan (2010:16) Public Relations (PR) adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya, menyangkut aktivitas komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama; melibatkan manajemen dalam menghadapi persoalan/permasalahan, membantu manajemen dalam mengikuti dan memenfaatkan perubahan secara efektif; bertindak sebagai sistem peringatan dini dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama.

Menurut Cutlip dan Center dalam Effendy (2009:116) PR adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik.

Definisi Public Relations menurut International Public Relations Association (IPRA) dalam Rumanti (2005:11), PR merupakan fungsi manajemen dari sikap budi yang direncanakan dan dijalankan secara berkesinambungan oleh organisasi-organisasi, lembaga-lembaga umum dan pribadi dipergunakan untuk memperoleh dan membina saling pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang ada hubungan dan diduga akan ada kaitannya, dengan cara menilai opini publik mereka, dengan tujuan sedapat mungkin menghubungkan kebijaksanaan dan ketatalaksanaan, guna mencapai kerja sama yang lebih produktif, dan untuk memenuhi kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan kegiatan penerangan yang terencana dan tersebar luas.

Definisi Menurut (British) Institute of Public Relations (IPR) dalam Frank Jefkins (2003:9) PR adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good-will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayak.

Definisi Menurut Frank Jefkins (2003:9) PR adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian. 

Selanjutnya, beberapa pengertian Public Relations atau Humas dari beberapa pakar komunikasi di Indonesia, antara lain :

Menurut Edy Sahputra Sitepu (2011:2) menjelaskan Public Relations (PR) dalam makna yang sederhana adalah tatap muka (hubungan) antara kelompok-kelompok dalam suatu tatanan masyarakat.

Menurut Maria Assumpta Rumanti (2005:7-8) PR adalah kegiatan atau aktivitas yang proses kegiatannya melalui empat tahap, yaitu penelitian yang didahului penemuan, analisis, pengolahan data dan sebagainya; perencanaan yang direncanakan; pelaksanaan yang tepat; evaluasi, penilaian setiap tahap dan evaluasi keseluruhan.

Menurut Onong Uchjana Effendy (2006:23) Hubungan Masyarakat (Humas) adalah komunikasi dua arah antara organisasi dengan publik secara timbal balik dalam rangka mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerjasama dan pemenuhan kepentingan bersama.

So, demikian penulisan dalam sesi definisi PR Menurut Para Ahli. Kurang lebihnya mohon komentar, kritik dan sarannya guna menunjang lebih baiknya tulisan yang saya buat. Semoga bermanfaat juga untuk kawan-kawan yang mendalami ilmu tentang Public Relations (PR).

See you next session.

Senin, 08 April 2013

Mengenal "Bapak Public Relations"

Ivy Ledbetter Lee
Ivy Ledbetter Lee adalah putra seorang negarawan di Georgia, Amerika Serikat.  Ivy Ledbetter Lee lulusan Princeton dan seorang reporter bisnis dikoran New York.

Perusahaan-perusahaan besar kebanyakan menyewa mantan reporter untuk menghadapi paramuckraker. Tetapi kebanyakan reporter itu tidak punya pemahaman yang cukup dalam menghadapi problem dasar dari konflik ini. Tetapi ada pengecualian, yaitu Lee. Lee melihat kemungkinan untuk mendapatkan lebih banyak uang dengan  bekerja untuk organisasi swasta yang mencari dukungan. Setelah lima tahun bekerja sebagai reporter, pada 1903 Lee berhenti dari pekerjaannya yang bergaji rendah di  World. Kemudian bekerja dalam kampanye Seth Low untuk menjadi wali kota New York. Pekerjaan ini kemudian membuatnya bekerja sama dengan  F. Parker dalam biro pers untuk Democratic National Committee selama kampanye presiden 1904. Parker telah memimpin publisitas untuk tiga kampanye Grover Cleveland untuk pemilihan presiden, namun dia tidak diangkat sebagai sekretaris pers nasional. Parker kembali ke pertarungan politik pada 1904 untuk memimpin  publisitas bagi Democratic National Committee dalam kampanye untuk mendongkel Presiden Theodore Roosevelt. Tetapi upaya ini gagal. Dia kemudian menyewa ivy Lee sebagai asistennya.

Dari sini muncul keputusan untuk membentuk kemitraan Parker dan Lee, yang kemudian bubar pada 1908 ketika Lee bekerja penuh untuk salah satu perusahaan klien, Pennsylvania Raiload. Dia menjadi direktur biro publisitas perusahaan tersebut. Ketika operator tambangbatu bara menyewa Parker & Lee untuk menyampaikan pandang perusahaan kepada publik mengenai pemogokan 1906, Lee mengeluarkan “Declaration of Principles.” Pernyataan filosofis Lee ini sangat memengaruhi evolusi press agentry dan publisitas dalam bidang PR.

Kegiatannya di bidang Public Relations dimulai pada tahun 1906, pada waktu industry batu bara di Negara “Paman Sam” mengalami kesulitan disebabkan pemogokan kaum buruhnya. Timbulnya pemogokan para pekerja yang mengancam kelumpuhan industry batubara menyebabkan munculnya gagasan atau ide pada benak Lee untuk menenganahi dengan bagi keuntungan antara kedua belah pihak yakni para industriawan dan para pekerja. Lee mengajukan gagasan kepada pimpinan industry batu bara dengan persyaratan sebagai berikut :
(1) Ia diberi kedudukan dalam manajemen puncak (top management)
(2) Ia diberi wewenang penuh untuk menyebarkan semua informasi factual yang patut diketahui rakyat.
Persyaratan yang diajukannya pada waktu itu cenderung revolusioner karena pada saat itu orang yang bergerak dalam bidang komunikasi informasi tidak berada pada struktur pimpinan puncak (top management). Pemikiran Lee dalam melakukan pekerjaannya sebagai seorang PR dinamakan declarations of principle (deklarasi asas-asas) yang pada hakikatnya keberadaan public tidak bisa dianggap enteng oleh manajemen industri dan dianggap tidak bisa apa-apa oleh pers. Proses inilah yang menyebabkan banyak orang mengakui Ivy Ledbetter Lee sebagai “Bapak Hubungan Masyarakat (Public Relations)“ yang merupakan seorang perintis, pelaksana dan pembina humas. Ia pula yang dikenal sebagai orang yang pertama menggunakan istilah publicity (publisitas) dan advertising (periklanan) sebagai kegiatan dalam ruang lingkup humas dan pencetus sekaligus yang membangun keberadaan atau “citra PR/humas yang diakui oleh masyarakat”.

Lee menentang pandangan di Wall Street yang “mengabaikan publik.” Deklarasi Lee ini menjelaskan bahwa publik tidak boleh diabaikan atau ditipu seperti pada masa lalu dengan menggunakan cara-cara yang dipakai agen pers. Lee mengirimkan deklarasi ini kepada semua editor dikota:

"Ini bukan biro pers rahasia. Semua pekerjaan kami dilakukan secara terbuka. Kami bertujuan menyampaikan berita. Ini bukan agen advertising, jika Anda berpendapat materi kami direkayasa untuk dimuat, jangan gunakan materi kami. Materi kami isinya akurat. Detail lebih lanjut tentang subjek ini akan segera diberikan, dan setiap editor akan dibantu dengan senang hati untuk memverifikasi setiap pernyataan. Ringkasnya, rencana kami adalah secara terus terang dan terbuka, atas nama kepedulian bisnis dan institusi publik, memberikan kepada pers dan publik Amerika Serikat informasi yang segera dan akurat berkenaan dengan subjek-subjek yang berharga dan menarik perhatian publik untuk diketahui."

Pendekatan Lee yang baru ini memudahkan pekerjaan reporter yang ditugaskan untuk meliput pemogokan. Kendati para reporter tidak diizinkan untuk menghadiri konferensi pemogokan, Lee menyediakan laporan setiap pertemuan dalam bentuk “handout” (yang kini dikenal sebagai press release atau news release). Kesuksesannya dalam melakukan peliputan yang menguntungkan untuk operator pertambangan membuat Pennsylvania Railroad menyewa Parker dan Lee pada musim panas 1906. Lee menangani pekerjaan ini. Selama periode ini Lee menggunakan istilah “publisitas” (publicity) untuk mendeskripsikan apa itu PR.

Konsep dan kesuksesan Lee terus bertambah. Pada Desember 1914, Lee diangkat menjadi penasihat pribadi untuk John D. Rockefeller Jr. Keluarga Rockefeller sedang diserang hebat karena tindakan mereka dalam membubarkan pemogokan di perusahaan mereka, Colorado Fuel and Iron Company. Koran-koran dan para kritikus menyebut peristiwa ini sebagai “Bloody Ludlow” (Ludlow Berdarah) dan “Ludlow Massacre” (Pembantaian Ludlow). Para kartunis dan penulis tajuk rencana menyebut Rockefeller sebagai penjahat terbesar pada masanya. Lee bekerja untuk Rockefellers sampai John D. meninggal pada 1934, yang saat itu dipuji oleh pers sebagai dermawan masyarakat yang besar.

Ivy Lee melakukan banyak upaya yang kini menjadi dasar bagi praktek kontenporer. Meskipun dia tidak menggunakan istilah public relations sampai 1919, Lee menyumbangkan banyak teknik dan prinsip yang sekarang diikuti oleh para praktisi PR. Dia adalah salah seorang yang menyadari kesalahan publisitas yang tidak didukung oleh kerja yang baik dan salah satu dari sedikit orang yang mengatakan bahwa kinerja akan menentukan publisitas yang akan didapatkan klien.

Sepanjang 31 tahun di bidang PR, Lee mengubah cakupan dari apa yang dia lakukan publisitas ke konseling klien. Misalnya, dia mengatakan, “Jika Anda mengeluarkan pernyataan publik yang isinya tidak benar, maka pernyataan itu akan langsung ditentang. Nasihatnya melampaui publisitas. Dalam Annual Convention of the American Electric Railway Association 1916 dia mengatakan, “hubungan aktual dari perusahaan dengan rakyat harus menggunakan lebih dari sekadar perkataan — tetapi juga harus dengan perbuatan.”



Tetapi Lee tidak bebas dari kecaman. Ketika dia meninggal, dia sedang dikritik keras karena dia menjadi salah satu wakil untuk German Dye Trust, yang dikuasai oieh I. G. Farben, Lee menjadi penasihat untuk kartel ini seteiah Hitler naik ke tampuk kekuasaan di Jerman dan Nazi berkuasa Headline di media saat itu membuat pekerjaannya menjadi sensasional — LEE GIVES ADVICECE THE NAZIS dan LEE EXPOSED AS HITLER PRESS AGENT Kendati dia tak pernah menerima bayaran langsung dari pemerintah Nazi, Lee dibayar $25,000 per tahun (yang saat itu sangat besar) plus imbalan lain oleh perusahaan Farben sejak dia disewa pada 1933 sampai dia mengundurkan diri tak lama sebelum dia meninggal pada 1934.

Sabtu, 30 Maret 2013

Sesi Perkenalan

Salam kenal,
Nama saya adalah Rizky Putri Pradiyan. Saya adalah mahasiswi konversi di Universitas Bhayangkara Bekasi yang sedang menjalani pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Public Relations. Mengapa disebut "konversi"? Sekedar bercerita, awalnya saya melakukan pendidikan di Akademi Komunikasi, Bina Sarana Informatika. Dan Alhamdulillah berhasil dengan lumayan memuaskan serta tepat waktu dalam menyelesaikan pendidikan Diploma Tiga (D3). Karna saya juga merupakan manusia biasa yang belum puas dengan apa yang saya capai, maka saya melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di Universitas Bhayangkara Bekasi.

Ketertarikan saya dalam dunia profesi Kehumasan atau Public Relations, berawal dari kegemaran saya dalam menulis cerita pendek, novel berseri dan memprogram suatu event kecil-kecilan. Sayangnya, ketertarikan itu baru muncul saat saya sudah merasakan keterpaksaan dan ketidak-ikhlasan memasuki pendidikan di Akademi Komunikasi, Jurusan Public Relations. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin saya memperdalam ilmu komunikasi, saya justru semakin tertarik dan menyukainya.

Hal ini terbukti saat saya memutuskan untuk melanjutkan pedidikan Strata 1 Jurusan Public Relations, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bhayangkara. Masing-masing orang pasti memiliki sebuah rencana dalam karir setelah menyelesaikan pendidikan. Saya pun juga memiliki rencana setelah menyelesaikan pendidikan. Saya selalu ingin menjadi novelis, konsultan public relations dan dosen. Sebelum mencapai semua itu, tentu saja masih banyak hal yang harus dilakukan, misalnya untuk menjadi novelis, saya harus melatih kemampuan menulis, memperbanyak perbendaharaan kata, keterampilan mengolah kalimat dan mengolah kalimat menjadi lebih indah serta menarik. Untuk menjadi seorang Konsultan Public Relations, yang harus dilakukan adalah mencari pengalaman kerja minimal 3 tahun di bidang kehumasan dan mencari jabatan di bidang itu, melanjutkan pendidikan sampai ke Strata 2 untuk mendapat perijinan membuka praktik konsultan public relations, serta mulai berlatih sebagai motivator atau pembicara di seminar. Sedangkan untuk menjadi seorang dosen, sebenarnya langkah yang harus di ambil hampir sama seperti menjadi seorang konsultan public relations.

Akan tetapi, tidak semua bisa berjalan dengan mudah, maka dari itu mulai dari sekarang saya sudah mulai menyiapkan sebagian kecil dari usaha di atas, misal mulai melatih menulis lagi baik cerita maupun informasi mengenai teori tentang public relations di blog ini. Mulai memperdalam mengenai program dan tugas-tugas seorang punlic relations baik di belakang meja maupun tampil di hadapan khalayak luas.

Demikian sesi perkenalan dari saya, semoga bisa dapat menjadi inspirasi kecil bagi para pembaca. Intinya bila anda ingin menyukai sesuatu, maka cari tahu dan kenalilah hal itu terlebih dahulu, lakukan dengan perasaan senang dan tanpa beban, maka insya allah semua akan mudah dan berlanjar dengan baik. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalammualaikum wr.wb